Ada satu kebiasaan lama yang mulai digugat keras oleh Gen Z Indonesia: kebiasaan menjadikan kepasrahan sebagai kebajikan. Setiap kali realitas terasa tidak adil, selalu ada jalan pintas bernama takdir. Setiap kali logika mengajukan pertanyaan, selalu ada dalih iman. Akhirnya, yang dipelihara bukan kedalaman spiritual, melainkan budaya diam yang rapi dan sopan.
Gen Z tumbuh dalam situasi yang terlalu kacau untuk dijelaskan dengan kalimat “sudah begitu dari sananya”. Ketika ketimpangan ekonomi makin telanjang, ketika agama sering dipakai sebagai stempel kebenaran sepihak, dan ketika kekuasaan gemar bersembunyi di balik simbol-simbol suci, akal tak punya pilihan selain memberontak. Inilah momen ketika logika dan mistika mulai diobrak-abrik.
Mu’tazilah pernah melakukan hal serupa berabad-abad lalu. Mereka muncul sebagai gangguan dalam teologi Islam yang terlalu nyaman dengan fatalisme. Dengan lantang mereka mengatakan: Tuhan Mahaadil, dan keadilan tidak mungkin berdiri di atas manusia yang tidak bebas. Jika manusia tidak punya kehendak, maka pahala dan dosa hanyalah sandiwara moral.
Pemikiran ini berbahaya bagi tatanan yang ingin stabil tanpa pertanyaan. Maka Mu’tazilah disingkirkan. Bukan karena mereka menolak Tuhan, tetapi karena mereka menolak menjadikan Tuhan sebagai alasan untuk membungkam akal. Dalam sejarah, teologi yang kritis memang sering kalah oleh teologi yang patuh.
Tan Malaka melihat pola yang sama dalam masyarakat Indonesia. Ia menyaksikan bagaimana mistika dipakai untuk menormalisasi penderitaan. Kemiskinan dijelaskan sebagai nasib. Ketertindasan diterima sebagai kehendak langit. Dalam kondisi seperti ini, manusia berhenti mencari sebab, apalagi solusi.
MADILOG lahir sebagai perlawanan terhadap cara berpikir itu. Ia menolak penjelasan kabur dan menuntut analisis konkret. Materialisme mengajak melihat struktur nyata, dialektika mengungkap konflik yang disembunyikan, dan logika memaksa setiap klaim untuk diuji. Bagi Tan Malaka, bangsa yang malas berpikir akan selalu mudah diperintah.
Mu’tazilah dan MADILOG, jika diletakkan berdampingan, membentuk satu garis lurus perlawanan: melawan kepasrahan yang disucikan. Yang satu melawan teologi yang mematikan tanggung jawab, yang lain melawan mistika yang melanggengkan penindasan. Keduanya sama-sama percaya bahwa akal bukan musuh iman, melainkan syarat bagi iman yang jujur.
Hari ini, konflik itu hadir dalam wajah baru. Media sosial dipenuhi kesalehan simbolik, tetapi miskin dialog. Kutipan suci dipakai untuk mengakhiri diskusi, bukan membuka pemahaman. Logika dianggap ancaman, sementara emosi dipuja sebagai kebenaran. Dalam iklim seperti ini, berpikir kritis sering dicap kurang ajar.
Gen Z menolak peran itu. Mereka tidak ingin menjadi generasi yang taat tapi tumpul. Mereka sadar bahwa iman tanpa akal hanya akan melahirkan kepatuhan kosong, dan logika tanpa keberanian hanya akan menjadi teori yang jinak. Maka mereka memilih jalan yang lebih berisik: bertanya, meragukan, dan membongkar narasi lama.
Mengobrak-abrik logika dan mistika bukan berarti menertawakan iman. Justru sebaliknya, ini adalah upaya menyelamatkan iman dari manipulasi. Ketika agama dipakai untuk membungkam keadilan, maka mempertanyakan tafsirnya adalah tindakan etis.
Mu’tazilah dan MADILOG mengingatkan satu hal yang sering dilupakan: berpikir adalah tanggung jawab moral. Diam bukan selalu tanda kesalehan. Dan kepasrahan, jika tidak disertai kesadaran, hanyalah bentuk lain dari menyerahkan kemanusiaan.
Di tangan Gen Z Indonesia, perlawanan ini belum tentu rapi, belum tentu halus, dan mungkin terlalu keras bagi sebagian orang. Tapi sejarah selalu menunjukkan hal yang sama: perubahan besar tidak pernah lahir dari akal yang disuruh diam.
Komentar
Posting Komentar